Krisis Kepercayaan Publik terhadap Negara: Implikasinya terhadap Pola Relasi Negara dan Warga di Era Digital
DOI:
https://doi.org/10.61253/abdicendekia.v5i2.751Kata Kunci:
Era Digital, Hubungan Sosial, Krisis Kepercayaan Publik, Negara, Warga NegaraAbstrak
Studi ini bertujuan untuk meneliti krisis kepercayaan publik terhadap negara dan era digitalnya, serta implikasi hubungan sosial terhadap pola hubungan antara negara dan warga negara di era digital. Fenomena ini penting karena perkembangan teknologi informasi tidak hanya memperluas akses informasi tetapi juga mempercepat penyebaran opini, kritik, dan ketidakpercayaan terhadap lembaga negara. Dalam konteks ini, hubungan antara negara dan warga negara telah bergeser menjadi lebih terbuka dan interaktif, namun juga lebih rentan terhadap konflik. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka, yang mengacu pada berbagai sumber sekunder seperti buku akademik, jurnal ilmiah, artikel ilmiah, dan laporan dari lembaga yang kredibel. Data dianalisis menggunakan analisis kualitatif deskriptif untuk memahami dinamika sosial dan perubahan pola hubungan antara negara dan masyarakat di ruang digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis kepercayaan publik dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci, termasuk transparansi yang rendah, inkonsistensi kebijakan, dan penyebaran informasi yang salah secara luas di media digital. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya skeptisisme publik, menurunnya legitimasi negara, dan meningkatnya partisipasi warga dalam bentuk kritik dan kontrol sosial melalui platform digital. Di sisi lain, era digital juga memberikan peluang bagi negara untuk membangun kembali kepercayaan melalui komunikasi yang lebih terbuka, responsif, dan partisipatif. Studi ini menyimpulkan bahwa krisis kepercayaan publik di era digital bukan hanya tantangan tetapi juga peluang untuk membangun hubungan yang lebih demokratis antara negara dan warga negara. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan manajemen komunikasi publik yang adaptif sejalan dengan perkembangan teknologi.Referensi
Aspinall, E., & Mietzner, M. (2019). Southeast Asia’s troubling elections: Nondemocratic pluralism in Indonesia. Journal of Democracy, 30(4), 104–118.
Assingkily, M. S. (2021). Metode Penelitian Pendidikan: Panduan Menulis Artikel Ilmiah dan Tugas Akhir. Yogyakarta: K-Media.
Blind, P. K. (2007). Building trust in government in the twenty-first century. Public Administration Review, 67(4), 630–640.
Castells, M. (2010). The rise of the network society. Oxford: Blackwell.
Fukuyama, F. (1995). Trust: The social virtues and the creation of prosperity. New York: Free Press.
Giddens, A. (1990). The consequences of modernity. Stanford: Stanford University Press.
Habermas, J. (1989). The structural transformation of the public sphere. Cambridge: MIT Press.
Levi, M., & Stoker, L. (2000). Political trust and trustworthiness. Annual Review of Political Science, 3, 475–507.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis. Thousand Oaks: Sage Publications.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sunstein, C. R. (2017). #Republic: Divided democracy in the age of social media. Princeton: Princeton University Press.
Van Dijck, J., Poell, T., & de Waal, M. (2018). The platform society: Public values in a connective world. Oxford: Oxford University Press.
Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology. Berkeley: University of California Press.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Adiba Deeandra, Evelyn Christy Sidabalok, Aisyah Simanullang , Nabira Arafah, Wahyu Arif Syahputra, Bisru Hafi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.

