Analisis Penggunaan Bahasa Baku Indonesia dalam Komunikasi Akademik Mahasiswa di Lingkungan Perguruan Tinggi: Sebuah Kajian Sosiolinguistik dan Refleks Digital
DOI:
https://doi.org/10.61253/jcgcs.v5i2.1001Kata Kunci:
Analisis Kesalahan Berbahasa, Bahasa Indonesia Baku, Komunikasi Akademik, Refleks Digital, SosiolinguistikAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif tingkat pemahaman, persepsi, dan penerapan bahasa Indonesia baku dalam komunikasi akademik mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi. Di era disrupsi digital, penggunaan media sosial dan aplikasi pesan instan yang semakin masif telah melahirkan berbagai variasi bahasa yang cenderung menggeser penggunaan ragam bahasa Indonesia baku dalam komunikasi akademik di lingkungan kampus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis korpus teks dan studi sosiolinguistik. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner daring kepada 50 mahasiswa aktif sebagai responden serta analisis dokumen terhadap 30 sampel korpus teks berupa pesan WhatsApp yang dikirim mahasiswa kepada dosen wali maupun dosen mata kuliah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa memiliki tingkat pemahaman teoritis yang cukup baik mengenai kosakata baku, kemampuan mereka dalam menerapkan bahasa Indonesia baku pada komunikasi tertulis formal masih menunjukkan penyimpangan yang cukup signifikan. Kesalahan berbahasa didominasi oleh penggunaan singkatan informal (70%), kesalahan afiksasi (45%), interferensi bahasa gaul (40%), dan ketidaktepatan pemilihan diksi (35%). Fenomena tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu refleks digital (habitual digital action) akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial serta hambatan psikologis berupa kekhawatiran akan terciptanya jarak sosial apabila menggunakan ragam bahasa yang terlalu formal. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan perlunya rekonstruksi kurikulum bahasa Indonesia di perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan aspek kognitif, tetapi juga menekankan pembiasaan pada ranah afektif dan psikomotorik dalam praktik komunikasi akademik formal.
Referensi
Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2017). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Keempat). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Chaer, A. (2019). Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Crystal, D. (2006). Language and the Internet (2nd ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
Herring, S. C. (Ed.). (2013). Discourse in Web 2.0: Familiar, Reconfigured, and Emergent. Washington, DC: Georgetown University Press.
Kridalaksana, H. (2018). Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa: Kumpulan Karangan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nababan, P. W. J. (2020). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sudarsono, B. (2021). Pergeseran nilai pemakaian bahasa baku di kalangan mahasiswa Generasi Z. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 11(2), 145–158.
Sumarsono. (2017). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tarigan, H. G. (2019). Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. (2009). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 109. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Yule, G. (2020). The Study of Language (7th ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
