Fenomena Kultus Individu dalam Tinjauan Hadis Nabi: Studi Analisis Kritis dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Karakter di Era Modern
DOI:
https://doi.org/10.61253/jcgcs.v5i2.920Kata Kunci:
Fanatisme, Ghuluw, Hadits Nabi, Kultus Individu, Pendidikan KarakterAbstrak
Fenomena kultus individu, yaitu sikap memuja, mengkultuskan, atau menaati seorang tokoh secara berlebihan tanpa sikap kritis, semakin marak terjadi di era digital, baik dalam ranah keagamaan, sosial, maupun politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena kultus individu dalam tinjauan hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ serta merumuskan implikasinya terhadap pendidikan karakter di era modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis kepustakaan (library research) dengan pendekatan tematik (maudhu'i) terhadap hadis, yang dianalisis melalui takhrij, kajian sanad-matan secara ringkas, asbabul wurud, makna, dan tujuan hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam melalui Al-Qur'an dan hadis secara tegas melarang sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan seseorang, sebagaimana tercermin dalam larangan Nabi ﷺ terhadap sikap menyanjung berlebihan dan larangan taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi tinggi dalam membangun pendidikan karakter yang kritis, moderat (wasathiyyah), dan tidak mudah terjebak dalam fanatisme buta terhadap tokoh, baik tokoh agama, publik figur, maupun idola di media sosial. Penelitian ini merekomendasikan internalisasi nilai-nilai hadis tentang larangan ghuluw ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam sebagai upaya preventif terhadap fenomena kultus individu di kalangan generasi muda.Referensi
Afroni, S. (2016). Makna ghuluw dalam Islam: Benih ekstremisme beragama. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya, 1(1), 70–85. https://doi.org/10.15575/jw.v1i1.579
Ahmad bin Hanbal. (2001). Musnad Ahmad bin Hanbal (S. Al-Arna'uth, Ed.). Mu'assasah al-Risalah.
Al-Albani, M. N. (1986). Silsilah al-ahadits al-shahihah. Maktabah al-Ma'arif.
Al-Asqalani, I. H. (2000). Fath al-Bari syarh Shahih al-Bukhari. Dar al-Salam.
Al-Bukhari, M. I. (2001). Shahih al-Bukhari (M. Z. An-Nashir, Ed.). Dar Tawq an-Najah.
Alfani, I. H. D., Mukhsin, & Shihab, M. F. (2024). Toshihiko Izutsu's approach to the Qur'an: A semantic analysis of the term ghuluw and its contextualization. Jurnal Riset Agama, 4(3).
Al-Farmawi, A. H. (1996). Metode tafsir maudhu'i dan cara penerapannya. Raja Grafindo Persada.
Al-Hakim, M. A. (1990). Al-Mustadrak 'ala al-Shahihain. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
An-Nasa'i, A. b. S. (2001). As-Sunan al-Kubra (H. A. Syalabi, Ed.). Mu'assasah al-Risalah.
An-Nawawi, Y. b. S. (1392 H). Al-Minhaj syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. Dar Ihya' al-Turath al-'Arabi.
Handoko, F. A., Rahaju, S., & Siaputra, I. B. (2024). Fanatisme penggemar K-pop Indonesia: Identitas fandom, tipe kepribadian, dan pemujaan selebritas pada penggemar K-pop. Jurnal Psikologi Ulayat, 11(1), 55–74. https://doi.org/10.24854/jpu688
Ibnu al-Salah. (1986). Muqaddimah Ibn al-Salah fi 'ulum al-hadith. Dar al-Fikr.
Ibnu Taimiyyah, A. b. A. (2005). Iqtidha' al-shirath al-mustaqim mukhalafat ashab al-jahim (N. Al-'Aql, Ed.). Maktabah al-Rusyd.
Ismail, M. S. (2014). Metodologi penelitian hadis Nabi. Bulan Bintang.
Johari Mat. (1997). Al-ghuluw fi al-'aqidah al-Islamiyyah. Jurnal Usuluddin, 5. https://doi.org/10.22452/usuluddin.vol5no5.8
Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Al-Qur'an al-Karim dan terjemahnya.
Zed, M. (2018). Metode penelitian kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.
