Adaptasi Psikososial Anak Pasca Perceraian Orang Tua: Studi tentang Persepsi Remaja Terhadap Kehidupan Keluarga
DOI:
https://doi.org/10.61253/abdicendekia.v5i2.691Kata Kunci:
Adaptasi Psikososial, Disorganisasi Keluarga, Perceraian, Remaja, StigmaAbstrak
Perceraian orang tua merupakan pemicu utama terjadinya disorganisasi struktural dalam lembaga keluarga yang berdampak signifikan pada fase transisi perkembangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika adaptasi sosio psikologis remaja yang mengalami perceraian orang tua secara langsung, sekaligus mengkomparasikan temuan tersebut dengan persepsi serta dekonstruksi stigma "anak broken home" dari sudut pandang remaja yang tumbuh dalam keluarga utuh. Menggunakan pendekatan metode kuantitatif, data dikumpulkan dari 51 responden remaja di Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian memicu disfungsi struktural domestik akut berupa ketimpangan pola asuh dan penurunan stabilitas ekonomi. Kondisi ini mereorientasi kesadaran subjektif remaja hingga membentuk krisis kepercayaan (trust issue) jangka panjang terhadap institusi pernikahan akibat internalisasi pengalaman masa lalu yang traumatis. Kendati demikian, integrasi sosial remaja tetap terjaga melalui optimalisasi jaringan sosialisasi sekunder (teman sebaya dan figur ibu tunggal) sebagai instrumen resiliensi eksternal. Dari aspek komparatif, remaja keluarga utuh secara aktif melakukan dekonstruksi terhadap stigma tradisional masyarakat dengan menolak pelabelan negatif tersebut melalui rasionalitas empati inklusif. Penelitian ini merekomendasikan penguatan layanan bimbingan konseling di institusi pendidikan serta penerapan sistem pengasuhan bersama (co-parenting) untuk meminimalkan dampak disorganisasi personal pada remaja.Referensi
Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. (2026). Statistik perceraian Provinsi Sumatera Utara tahun 2025. Medan: BPS Provinsi Sumatera Utara.
Badan Pusat Statistik. (2026). Statistik perceraian Indonesia tahun 2025. Jakarta: BPS Indonesia
Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.
Blumer, H. (1969). Symbolic interactionism: Perspective and method. Prentice-Hall.
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press
Elizabeth B. Hurlock. (1999). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.
John Bowlby. (1988). A secure base: Parent child attachment and healthy human development. New York: Basic Books.
Jonathan Sarwono. (2020). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Lestari, S. (2016). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga. Kencana.
Lexy J. Moleong. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Parsons, T. (1951). The social system. Free Press.
R. Subekti. (2003). Pokok-pokok hukum perdata. Jakarta: Intermasa.
Salvador Minuchin. (1974). Families and family therapy. Cambridge: Harvard University Press.
Saputro, K. Z. (2018). Memahami ciri dan tugas perkembangan masa remaja. Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama, 17(1), 25–32.
Sarlito Wirawan Sarwono. (2016). Psikologi remaja. Jakarta: Rajawali Pers.
Siaran Berita. (2026, 17 Maret). Medan catat angka perceraian tertinggi di Sumut, ini yang jadi faktor pemicu. https://siaran-berita.com/medan-catat-angka-perceraian-tertinggi-di-sumut-ini-yang-jadi-faktor-pemicu/.
Sugiyono. (2022). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Syamsu Yusuf. (2011). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Miftahul Jannah, Melda Nadia Simanjuntak, Melanie Paskah Cristin Br Simamora, Keyzia Raysha Putri, Aina Zahra, Hariani Siregar

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.

