Si Dua Jambar dan Paradoks Multikulturalisme: Pengakuan Historis dan Eksklusi Gender dalam Masyarakat Batak
DOI:
https://doi.org/10.61253/abdicendekia.v5i2.653Kata Kunci:
Batak, Gender, Masyarakat, Nantinjo, Si Dua JambarAbstrak
Penelitian ini mengeksplorasi konsep Si Dua Jambar melalui figur Namboru Nantinjo dalam masyarakat Batak Toba serta transformasi maknanya dalam konteks modernitas. Secara historis, sosok Nantinjo merupakan bukti pengakuan budaya Batak terhadap variasi gender yang melampaui dikotomi laki-laki dan perempuan. Namun, seiring perkembangan zaman, identitas tersebut mengalami stigmatisasi dan dianggap tabu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan wawancara mendalam dengan dua orang informan untuk memahami proses pergeseran pemaknaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya paradoks multikulturalisme: masyarakat tetap menghormati tokoh leluhur secara ritual, namun menolak realitas identitas gender yang diwakilinya dalam kehidupan sosial. Pergeseran dari inklusivitas menuju eksklusi ini dipengaruhi oleh dominasi doktrin agama, penguatan norma sosial heteronormatif, dan arus globalisasi yang menyempitkan pandangan terhadap keberagaman gender. Fenomena ini mengindikasikan adanya amnesia historis terhadap nilai-nilai inklusif yang sebenarnya telah mengakar dalam struktur budaya Batak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengakuan historis terhadap figur seperti Nantinjo belum menjamin keadilan gender di masa kini, melainkan justru melahirkan eksklusi yang kontradiktif dalam bingkai multikulturalisme.Referensi
Aritonang, Jan S. (2016). "Gender and Equality in the History and Culture of the Batak People." International Journal of Indonesian Studies 3(1):12-28.
Butar, Edison Butar. (2024). Nantinjo: Tubuh yang Terus Hidup. Medan: Cangkang Queer.
Firmando, H. B. (2024). The role of the traditional beliefs of the Toba Batak community in social practices in the Lake Toba region: A review of culture and context. Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial, 8(1), 156-177. https://doi.org/10.30762/asketik.v8i1.1433
Kymlicka, Will. (1995). Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority Rights. Oxford: Clarendon Press.
Lubis, Dahlia. (2021). "Multiculturalism Paradox: Religious Values vs Cultural Identity in North Sumatra." Journal of Social Studies Education Research, 12(3):210-235.
Panggabean, R. M. (2022). "Eksklusi Gender dalam Struktur Adat Batak Toba: Perspektif Sosiologi Hukum." Jurnal Hukum dan Pembangunan, 52(1):45-62.
Purba, D. H., & Lumbantobing, S. M. (2024). Si Dua Jambar: Pemahaman Masyarakat Batak Toba tentang Gender dan Seksualitas. Medan: Cangkang Queer.
Sihombing, L. (2023). "Amnesia Historis dan Pergeseran Identitas Masyarakat Adat di Era Globalisasi." Jurnal Sosiologi Nusantara 9(2):112-130.
Simanjuntak, Devi. (2019). "Namboru Nantinjo: Myth, Ritual, and Gender Fluidity in Batak Toba." Indonesian Journal of Cultural Studies, 5(1):77-94.
Sinaga, Richard. (2021). "Transformasi Peran Perempuan dalam Upacara Adat Batak Toba." Jurnal Budaya Nusantara, 8(3):201-215.
Sitompul, J. (2018). "Multiculturalism and Marginalized Identities in North Sumatra: A Critical Analysis." Journal of Ethnic and Cultural Studies, 5(2):14-30.
Sura, E. S., Ningsi, V. C., Manuakali, F. T., Salombe, J. B., & Pongre'kun, I. M. (2025). Pendidikan agama Kristen dan pembentukan identitas gender di kalangan remaja: Pendekatan teologis dan sosiokultural. Jurnal Pendidikan dan Keguruan, 3(3), 646–659. https://adisampublisher.org/index.php/edu/article/view/908
Wijayanti, R. N., Asbari, M., & Cahyaningsih, N. D. (2025). Melawan amnesia historis: Mewarisi sejarah, membangun peradaban. Journal of Information Systems and Management (JISMA), 4 (2), 40–44. https://jisma.org/index.php/jisma/article/view/1271
Zed, Mestika. (2014). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

